Rakor Penanganan Covid-19 Bali

Beranda Berita Rakor Penanganan Covid-19 Bali

Dokter Suarjaya : Mari Minimalisir Penularan Covid-19 ke Tenaga Medis

“Mari Kita Meminimalisir Penularan Covid-19 ke semua Tenaga Medis di Bali”, Kata Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali, dr. Ketut Suarjaya saat memimpin rapat koordinasi  (rakor) Tim Kesehatan Penanganan  Covid-19 via video conference, Rabu (4/6) di ruang Cempaka Lantai I, Kantor Dinas Kesehatan Provinsi Bali, Jl. Melati No. 20 Denpasar.

Rakor diikuti oleh Direktur RS Rujukan yang ada di seluruh Bali, Dekan Fakultas Kedokteran Univ Udayana, Dekan Fakultas Kedokteran Univ. Warmadewa serta tim dari Dinas Kesehatan Provinsi Bali.

Dalam rakor tersebut, dr. Suarjaya juga menjelaskan bahwa dari data yang dilaporkan ke Dinas Kesehatan Provinsi Bali sampai dengan 3 Juni 2020, tenaga medis yang terpapar infeksi Covid-19 tersebur telah terjadi di 6 Kabupaten. Sedangkan 3 Kabupaten yang nihil adalah Jembrana, Karangasem dan Gianyar. Katagori tenaga medis yang terpapar adalah mulai dari Dokter, Perawat, Bidan, apoteker dan petugas Gizi.

Untuk paparan 5 besar kasus transmisi lokal adalah Buleleng dengan angka 61 kasus, Denpasar dengan 46 kasus, Bangli dengan 45 kasus, Badung dengan 32 Kasus dan Karangasem dengan 15 kasus.

Menyikapi keadaan tersebut, dr. Suarjaya meminta masukan kepada semua tim tentang langkah yang akan diambil untuk mencegah penyebaran Covid-19 di lingkungan tenaga medis di Bali.

“Saya ingin semua peserta rapat memberikan masukan. Karena menurut saya, tim Medis sebenarnya harus memberi contoh yang baik. Dan karena menjadi contoh, sudah selayaknya mereka sedikit terpapar covid-19″, kata Kadiskes.

Menanggapi hal tersebut, Dekan Fakultas Kedokteran Univ Warmadewa, dr I Gusti Ngurah Anom Murdhana, Sp.FK mengungkapkan bahwa semua tim harus memikirkan cara pencegahan penyebaran Covid-19 tersebut secara nyata.

“Kita harus menterjemahkan makna NEW NORMAL tersebut agar mudah dipahami masyarakat dan Tim Medis. Sehingga bisa mempercepat proses pencegahan penyebaran virus ini. Saya tegaskan, virus ini tidaklah mungkin hilang. Cuma kita harus mulai menerapkan aturan NEW NORMAL yang baru serentak”, katanya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Kedokteran Univ. Udayana, Dr. dr. I Ketut Suyasa,Sp.B,Sp.OT (K) menambahkan, selama 3 bulan masyarakat Bali sudah bergelut dengan situasi pandemic COVID-19. Walaupun kasus di Bali masih terkendali, namun laporan temuan kasus baru masih terjadi sulit memprediksi kapan pandemi COVID-19 di Bali akan sepenuhnya dapat dikendalikan.   

Dr. dr. I Ketut Suyasa juga menegaskan bahwa banyak ahli yang memperkirakan epidemi COVID-19 di Indonesia dapat terjadi sampai September atau Oktober 2020, sementara tekanan ekonomi telah semakin dirasakan masyarakat, khususnya di sektor informal.

“Bagaimanakah cara kita menjaga masyarakat kita agar terhindar dari paparan COVID-19, sementara tetap dapat menjalani kehidupan dan beraktifitas seperti biasa?”, katanya. Dr. dr. Suyasa juga mengulang penjelasan dr. Suarjaya, dimana banyak tenaga medis dan tenaga kesehatan terkonfirmasi positif COVID-19. “Fenomena apa ini ?”, tanyanya.

Dokter Suyasa pun membuat beberapa dugaan. “Ada beberapa dugaan yang saya bisa rangkum, diantaranya adalah : Tidak dipatuhinya protokol kesehatan, Masyarakat mulai jenuh dengan kondisi pandemic, sehingga mulai out of control, Menurunnya tingkat kewaspadaan dan tidak menyadari adanya OTG di tengah – tengah kita serta Kelalaian saat memakai dan melepas APD, bukan tidak mungkin karena factor kelelahan”, jelasnya.

Dari dugaan tersebut, Dr. dr. I Ketut Suyasa pun mengusulkan beberapa hal, diantaranya adalah Semua anggota masyarakat harus mematuhi protokol kesehatan. Kemudian langkah selanjutnya adalah meredesign pelaksanaan pelayanan di RS.

“Kita bisa memanfaatkan teknologi dengan memaksimalkan pemanfaatan IT. Dimana dalam prakteknya, Rumah Sakit bisa menentukan alur pasien/petugas masuk dan keluar. Juga menyediakan  tempat cuci tangan bagi petugas dan pengunjung. Untuk layanan registrasi, bisa dilaksanakan dengan on line dan mengatur waktu kedatangan pasien untuk mendapat pelayanan di RS  dengan konsekuensi waktu pelayanan diperpanjang dan regulasi petugas diatur dalam pelayanan secara bergilir sehingga cukup waktu bagi petugas untuk bersitirahat. Selain itu juga hendaknya terus diadakan evaluasi dan updating preoperative planning dan menambahkan pemeriksaan swab pada pasien yang akan menjalani tindakan elektif dan rapid tes pada kasus emergency”, katanya.

Dr. dr. I Ketut Suyasa juga menegaskan bahwa pemeriksaan swab berkala pada tenaga medis, tenaga paramedic, peserta didik dan tempat – tempat pelayanan harus dilakukan secara kontinyu. Juga Edukasi pada masyarakat, membatasi   penunggu pasien dan pengunjung, mengatur regulasi, petugas dan penyediaan APD 1 level diatas yang direkomendasikan. Di dunia pendidikan Fakultas Kedokteran sebaiknya juga dilaksanakan redesign pendidikan.

“Ini kita lakukan menyesuaikan situasi dan kondisi saat ini. Dimana penjabarannya dilakukan dengan pembelajaran secara online ataupun offline”, katanya mengakhiri usulan dalam rakor. (Humas Dinas Kesehatan Provinsi Bali)

  • Covid-19 Bali
  • Dekan FK UNUD
  • Rakor Covid-19 Bali