Diskes Bali Latih TNI Peduli AIDS

Beranda Berita Diskes Bali Latih TNI Peduli AIDS
Beberapa Kasus HIV-AIDS di Bali diawali dari rasa kesepian, lalu mencoba narkoba dan membeli seks yang tidak aman dan beresiko. Hal ini bisa timbul dikalangan TNI karena mobilitas kerja yang tinggi

Dalam upaya pencegahan dan pengendalian HIV-AIDS di Provinsi Bali. Diskes Bali mengajak TNI AD KODAM IX Udayana untuk bersama-sama peduli akan dampak bahaya penularan HIV-AIDS melalui pelatihan AIDS di tempat kerja bagi prajurit TNI AD KODAM IX Udayana di Kantor BPSDM Provinsi Bali selama 2 hari, 16-17 Juli 2019. Pelatihan ini bertujuan mengenalkan prajurit bagaimana mengelola rasa kangen dan kesepian tanpa narkoba atau seks berisiko agar terhindar dari HIV-AIDS atau kecanduan narkoba.

Kadiskes Bali yang dalam hal ini mewakili Wakil Gubernur Bali membuka pelatihan tersebut. Beliau mengapresiasi kepada pimpinan TNI dan jajarannya dalam melindungi anggotanya dari ancaman HIV-AIDS. Selain itu, juga membentuk prajurit tangguh sehat phisik, mental dan spiritual melalui pelatihan ini. Kedepan upaya ini perlu di scaling up agar dampaknya lebih bermakna dan berkontribusi dalam penanggulangan HIV-AIDS di Bali, kata beliau.

Selain itu, pelatihan ini sangat strategis mengingat mobilitas prajurit sangat tinggi dan harus siap menunaikan tugas di seluruh kesatuan RI. Sesuai dengan amanat sumpah dan Sapta Marga prajurit TNI. Mobilitas tinggi dari para TNI ini tidak jarang menjauhkan prajurit dengan keluarga dan anak istrinya dalam waktu lama dan tidak bisa ditentukan. Situasi dan kondisi demikian tidak bisa dipungkiri bisa memicu rasa kangen bahkan rasa kesepian. Rasa kesepian ini merupakan faktor pemicu kasus HIV-AIDS di Bali, mendorong individu untuk mencoba narkoba atau membeli seks beresiko.

Laporan Dinas Kesehatan Provinsi Bali bahwa secara kumulatif kasus HIV-AIDS yang berhasil diungkap sejak pertama ditemukan tahun 1987 sampai Maret 2019 mencapai 21.018, tersebar keseluruh Bali. Kebanyakan adalah seksual aktif dengan kisaran umur antara 15-50 tahun digolongkan sebagai angkatan kerja baik PNS, TNI, Polri, Kalangan Dewan, Profesional dan Swasta.

Fenomena kasus

Di beberapa kasus, seringkali seorang karyawan positif HIV diberhentikan dari tugasnya hanya karena mereka terjangkit virus HIV. Padahal tindakan ini sangat bertentangan dengan hukum internasional tentang hak asasi dan hak-hak pekerja sebagaimana Konvensi ILO Nomor 111 tentang Diskriminasi dalam pekerjaan dan jabatan. Bertentangan pula dengan Undang-Undang Ketenagakerjaan Indonesia Nomor 13 Tahun 2003 dan UU No 21 Tahun 1999 tentang diskriminasi dalam pekerjaan dan jabatan (Pengesahan Konvensi ILO Nomor 111) yang melarang sebuah perusahaan mem-PHK pekerjanya jika menderita HIV-AIDS.

Fenomena kasus yang diuraikan diatas sering terjadi, karena isu HIV-AIDS di dunia kerja tidak popular dan kurangnya pemahaman mereka atas hak dan kewajibannya jika yang bersangkutan menyandang AIDS. Oleh karenanya isu HIV-AIDS perlu disosialisasikan ke dunia kerja termasuk dikalangan Prajurit TNI. Apabila diketahui ada anggota TNI terinfeksi HIV, segera ditangani pengobatan ARV agar tidak masuk kestadium AIDS.

Pusat-pusat layanan testing HIV

Pusat-pusat layanan testing HIV sudah dioperasikan diseluruh rumah sakit pemerintah dan puskesmas di Bali termasuk di RSAD Udayana dengan gratis. Selain itu, pusat layanan tersebut juga dilayani oleh tenaga medis perawat maupun dokter terlatih dibidang HIV-AIDS . Demikian pula terapi HIV dengan obat Anti Retroviral (ARV) sudah kita siapkan sebagai tindak lanjut pasca tes yang dilakukan. Semakin cepat diketahui status HIV seseorang maka semakin cepat pula orang tersebut mendapatkan pengobatan ARV. Dengan demikian akan meningkatkan kualitas hidup mereka sebagaimana layaknya kondisi orang normal tanpa HIV.

Faktor risiko penularan terbesar terjadi melalui hubungan seks berisiko. Berganti-ganti pasangan seks tanpa menggunakan kondom adalah termasuk seks berisiko. Maka setialah dengan satu pasangan saja seumur hidup. Penemuan dan pemanfaatan ARV untuk pengobatan HIV jangan dijadikan excuse untuk melakukan seks bebas. ARV tidak mampu membunuh virus, tapi hanya menekan populasinya saja. Sampai batas tertentu untuk menjadikan penderita lebih baik kwalitas hidupnya namun tetap potensi untuk menularkan kepada orang lain. Sekali HIV masuk ketubuh, maka akan dibawa sampai mati dan dapat menular kepasangannya.