Dinkes Bali Tingkatkan Kompetensi SDM Surveilans Gizi

Beranda Berita Dinkes Bali Tingkatkan Kompetensi SDM Surveilans Gizi

Visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali dengan Misi ke-3 Bidang Kesehatan memprioritaskan pada peningkatan akses dan kualitas pelayanan kesehatan. Dengan kualitas pelayanan kesehatan yang baik diharapkan dapat mewujudkan Krama Bali yang Sehat. Krama Bali Sehat dilihat dari salah satu indikator yaitu status gizi masyarakatnya, semakin baik status gizi masyarakat di suatu daerah maka semakin baik derajat kesehatan masyarakatnya. Salah satu faktor yang mendukung dalam peningkatan kualitas pelayanan kesehatan adalah tersedianya Sumber Daya Manusia Kesehatan yang mampu memberikan pelayanan kesehatan yang paripurna bagi masyarakat termasuk didalamnya pelayanan untuk meningkatkan status gizi masyarakat dalam bentuk surveilans gizi. Melihat pentingnya peningkatan kualitas SDM Kesehatan Dinas Kesehatan Provinsi Bali melalui UPTD Balai Pelatihan Kesehatan Masyarakat mengadakan pelatihan surveilans gizi se- Provinsi Bali yang diadakan di UPTD. Bapelkesmas 24 Juni 2019.

Kadiskes Bali dr. Ketut Suarjaya, MPPM membuka pelatihan tersebut dan berharap dengan pelatihan ini dapat meningkatkan pengetahuan dan kompetensi dalam tata laksana surveilans gizi. Selain itu Kadiskes juga mengingatkan untuk selalu menumbuh kembangkan loyalitas dan disiplin sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN). Loyalitas dan disiplin adalah faktor pendukung dalam pelaksanaan tugas dalam rangka memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Bali secara paripurna. “Jadikan ini sebagai wahana untuk tukar menukar pikiran, pengalaman dan diskusi serta komunikasi untuk menambah wawasan”, kata Beliau.

Surveilans Gizi pada awalnya dikembangkan untuk mampu memprediksi situasi pangan dan gizi secara teratur dan terus menerus sehingga setiap perubahan situasi dapat dideteksi lebih awal (dini) untuk segera dilakukan tindakan pencegahan. Sistem tersebut dikenal dengan Sistem Isyarat Tepat Waktu untuk Intervensi, yang kemudian lebih dikenal dengan nama Sistem Isyarat Dini untuk Intervensi (SIDI).

Pada periode 1986-1990 SIDI dikembangkan di beberapa Provinsi dan pada periode 1990-1997 berkembang mencakup aspek yang lebih luas dengan pertimbangan bahwa masalah gizi dapat terjadi setiap saat tidak hanya diakibatkan oleh kegagalan produksi pertanian. Sistem yang dikembangkan ini disebut Sistem Kewaspadaan Pangan dan Gizi (SKPG) yang kegiatannya meliputi : SIDI, pemantauan status gizi dan Jejaring Informasi Pangan dan Gizi (JIPG).