Bali Siap Triple Eliminasi Penyakit Menular

Beranda Berita Bali Siap Triple Eliminasi Penyakit Menular

Kesehatan seksual dan sistem reproduksi sangat penting dalam penularan penyakit menular seksual seperti HIV, Sifilis dan Hepatitis. Secara umum ketiga infeksi ini berdampak pada kesakitan dan kematian, sosial maupun ekonomi; pada ibu mengakibatkan infertilitas, hamil ektopik, infeksi pelvis, kanker saluran reproduksi; sedangkan penularan ke bayi/anak 90% terjadi selama kehamilan, persalinan dan menyusui dan mengakibatkan lahir mati (still birth), prematur, berat lahir rendah, infeksi neonatus dan kongenital. Melihat dampak dari ketiga penyakit menular tersebut Dinas Kesehatan Provinsi Bali mengadakan Pertemuan Orientasi Tatalaksana Penanggulangan HIV AIDS (Triple Eliminasi) yang dilaksanakan di Hotel Mercure Bali Harvestland Kuta Kabupaten Badung, Bali 20-22 Juni 2019 yang dihadiri oleh pemegang program penyakit menular Dinas Kesehatan Kab/Kota dan lintas sektor terkait.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Diskes Bali I Wayan Widia, SKM, M.Kes mengajak seluruh pemegang program dan lintas sektor terkait untuk mendukung program triple eliminasi penyakit menular di Bali dan pengendalian HIV dan TB di Indonesia. Kabid P2P berharap dengan dilakukan triple eliminasi dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian yang disebapkan oleh penyakit menular di Bali.

Pada analisis korelasi perempuan terinfeksi HIV-AIDS dibandingkan HIV perinatal pada tahun berikutnya menunjukkan bahwa perluasan cakupan deteksi dini pada perempuan secara eksponensial trendnya menurun baru pada 2 tahun terakhir. Namun demikian, pada Sifilis dan Hepatitis B belum diketahui korelasi tersebut.

Sifilis diperkirakan terdapat pada 36,4 juta orang, pada pria insiden 1,8 dan prevalensi 7,5 dan pada wanita insiden 1,6 dan prevalensi 6,8 persen di dunia, sedangkan di Asia Tenggara diperkirakan 3,2 pada wanita dan pria 3,1 per 1000 penduduk dengan prevalensi pada pria 6,3 dan 6,1 wanita (WHO, 2008). Sifilis pada kehamilan menyebabkan kematian janin dan neonates (305 ribu per tahun) dan prematuritas (215 ribu per tahun), bayi berat lahir rendah (BBLR) dan sifilis kongenital. Infeksi sifilis pada janin terjadi dalam trimester pertama kehamilan, sehingga dapat menyebabkan sifilis kongenital dngan akibat lahir mati atau prematuritas. Sifilis kongenital ditandai dengan snuffle, pemphigus sifilitika, desquamasi telapak tangan dan kaki serta kelainan gigi dan mulut.

Pada penyakit yang dapat ditularkan melalui seksual, HIV, Sifilis dan Hepatitis B menempati prioritas yang penting dengan indikator sasaran persentase angka kasus HIV yang diobati sebesar 55%, persentase kabupaten/kota yang melaksanakan kegiatan deteksi dini hepatitis B pada kelompok berisiko sebesar 80% dan tidak adanya sifilis kongenital.

Diperlukan Pencegahan dan Pengendalian HIV, Sifilis dan Hepatitis B dengan prioritas memutuskan rantai penularan secara komprehensif guna mencapai target “3 Zero,s”, yaitu zero new infection (menurunnya jumlah kasus baru, serendah mungkin), zero death (menurunnya angka kematian), zero stigma and discrimination (menurunnya tingkat diskriminasi serendah mungkin) dan peningkatan kualitas hidup.