Khawatir Dampak Limbah Medis Dinkes Bali Orientasi Fasyankes

Beranda Berita Khawatir Dampak Limbah Medis Dinkes Bali Orientasi Fasyankes

Visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” yang diartikan sebagai menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali beserta isinya, untuk mewujudkan kehidupan krama dan gumi Bali yang sejahtera dan bahagia merupakan kepedulian Pemerintah Provinsi Bali untuk menjaga alam bali beserta isinya dan melindungi alam bali dari unsur-unsur berbahaya agar alam tersebut tidak rusak dan tetap lestari. Unsur-unsur yang berbahaya itu salah satunya dapat ditimbulkan dari limbah medis yang dihasilkan oleh Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) jika tidak dikelola dengan baik. Melihat bahaya akan dampak limbah medis tersebut Dinkes Bali melaksanakan orientasi limbah medis yang dihadiri oleh fasyankes se-Bali terdiri dari Puskesmas, Klinik, Lab Kesehatan dan Rumah Sakit bertempat di Kabupaten Badung, 19 Juni 2019.

Fasilitas Pelayanan Kesehatan merupakan bagian dari sumber daya kesehatan yang sangat diperlukan dalam mendukung penyelenggaraan upaya kesehatan. Penyelenggaraan pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan mempunyai karakteristik dan organisasi yang kompleks. Sebagai sarana umum fasyankes adalah tempat berkumpulnya orang sakit maupun orang sehat, sehingga sampah yang ditimbulkan sebagaian adalah sampah medis, sehingga memungkinkan terjadinya pencemaran lingkungan, gangguan kesehatan dan juga penularan penyakit. Berdasarkan kajian yang ada menunjukan bahwa timbulan limbah dari kegiatan rumah sakit mencapai sekitar 0,14 kg/TT/hari (WHO dan P2MPL thn 2002), sedangkan limbah dari puskemas sebesar 7,50 gr/pasien/hari ( PATH, thn 2004) yang didominasi limbah imunisasi (65%). Limbah sarana kesehatan tidak semuanya tergolong berbahaya, hanya sekitar 20% saja yang tergolong B3, sedangkan sekitar 80% limbah non B3. Namun demikian, potensi limbah B3 akan menjadi besar bila pengelolaan limbah tidak benar. Pengelolaan limbah yang tidak benar akan sangat membahayakan bagi petugas sarana kesehatan tersebut, dan juga bagi petugas yang menangani limbah. Dari hasil yang ada menunjukan bahwa 20 dari 1000 petugas kesehatan berisiko terkena infeksi akibat limbah tajam, dan 180 dari 1000 petugas kebersihan berisiko terkena infeksi akibat pengelolaan limbah yang tidak benar.

Kadiskes Bali dr. Ketut Suarjaya, MPPM berharap dengan diadakan orientasi ini fasyankes dapat mengelola limbah medis dengan cara yang benar, aman dan memenuhi syarat kesehatan. Perilaku dari petugas kesehatan dalam pengelolaan limbah juga harus mendapat perhatian khusus. Peningkatan pengetahuan dan sikap dari petugas kesehatan dalam hal pengelolaan limbah medis yang benar, aman dan memenuhi syarat kesehatan akan meningkatkan perilaku mereka. Diperlukan adanya peningkatan kapasitas petugas kesehatan dalam pengelolaan limbah medis fasyankes

Pengelolaan limbah medis belum menjadi perhatian yang seksama bagi para manajer fasilitas layanan kesehatan. Ini terbukti bahwa dari berbagai studi di Indonesia baru sekitar 34-59% fasilitas layanan kesehatan yang menggunakan incinerator. Hal ini dimungkinkan karena teknologi incinerator cukup rumit disamping harga yang relatif mahal dan perlu perawatan yang kontinyu. Untuk itu, Kadiskes Bali juga mengajak para pemangku kepentingan di Fasyankes untuk lebih peduli dalam pengelolaan limbah medis demi menjaga kesehatan lingkungan alam bali beserta isinya